penumpang

Sekarang ini saya sering mendengar para pengemudi mengeluh “…wah sekarang penumpang semakin sepi…”, Ya begitulah kira-kira ungkapan hati mereka. Angkutan umum sekarang ini semakin kalah bersaing dengan sepeda motor.  Selain faktor harga, kecepatan juga menjadi keunggulan dari sepeda motor.

Walau pun keadaan sudah berubah, dimana pengguna jasa kendaraan umum sudah semakin banyak beralih ke moda transportasi lain, tetapi para awak bus dan operator kendaraan tidak belajar satu hal, yaitu KENYAMANAN!

Para pengguna jasa hanya diperlakukan dan memang benar-benar diperlakukan seperti PENUMPANG! Ya penumpang. Tidak hanya angkutan umum seperti Metro Mini  maupun Bus Kota, tetapi perusahaan penerbangan pun memperlakukan konsumennya tidak jauh berbeda.

Lalu apa salahnya dengan kata Penumpang? Menurut saya memang tidak salah tetapi kurang tepat saja. Namanya orang menumpang biasanya tidak membayar dan hanya mengikuti kemauan si empunya. Jangankan posisi tawar, mereka sudah mau diangkut saja sudah bagus.

Ketika saya belajar tentang branding,  saya ingat betul banyak perusahaan transportasi yang mengubah panggilan kepada konsumen menjadi pelanggan yang terhormat atau juga Bapak dan Ibu. Terdengar lebih sopan memang. Tetapi, perubahan panggilan itu ternyata tidak banyak diikuti oleh perubahan pelayanan.  Mereka tetap mengangap bahwa penumpang adalah orang yang menumpang, walau pun sebenarnya menumpang dengan membayar.

Keadaan lebih parah akan dapat dengan mudah dijumpai di angkutan-angkutan umum khususnya di ibukota.  Selain masalah kapasitas angkut yang berlebih, perlakuan awak bus juga banyak yang kurang menyenangkan.  Kalo Anda penasaran, anda bisa mencoba bus-bus patas ketika jam sibuk. Anda pasti tahu rasanya menumpang itu bagaimana. Satu Hanya satu hal yang ada “Pokoknya sampai rumah lah”.

Hal-hal seperti ini memang harus sudah mulai diperhatikan dan diperbaiki. Jika soal kapasitas angkut memang menjadi masalah yang dilematis, dan mungkin bisa menjadi pengecualian. Tetapi jika soal keramahan, saya pikir bukan hal yang bisa ditawar lagi.  Itu semua bisa dimulai dengan satu hal kecil saja, ucapan terima kasih kepada sang konsumen.

Advertisements

Leave a comment

Filed under opinion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s